Penutup dari Trilogi [Remember]

(#3) Remember, It’s the 13th November

Dari 2 CV yang saya relakan menjadi milik perusahaan di hari pertama ITB Jobfair, PT Paragon Technology and Innovation (PTI) memanggil untuk tes pendahuluan pada tanggal 26 Oktober 2013 di SBM ITB. PTI ini adalah perusahaan yang memproduksi Wardah Cosmetics dan beberapa produk lain seperti Putri, IX, dan Make Over.  Saya yakin, banyak sekali yang ingin menjadi bagian dari perusahaan ini. Berdasarkan cerita, perusahaan ini lingkungan kerjanya nyaman, kekeluargaan, dan memiliki standar gaji cukup besar untuk fresh graduate. Bagi saya, tentu yang terpenting PTI merupakan perusahaan Indonesia, milik orang Indonesia, berkembang sangat pesat, dan juga, semua yang meletakkan CV akan diberi bedak dan voucher =D Ok, nothing to lose, saya memutuskan mengikuti proses rekrutmen PTI dari ITB Jobfair dengan alasan proses yang begitu cepat dan saya sudah lelah menjadi pengangguran. Berikut ini adalah tahapan tes yang saya ikuti:

 

1. Tes awal/pendahuluan

26 Oktober 2013, saya mengikuti tes awal di SBM ITB. Psikotest awal ini cukup sederhana dan menggunakan LJK. Mencari gambar yang paling berbeda, menghitung jumlah balok kecil, dan menentukan deret. Setelah itu, tes berlanjut ke kertas seukuran koran berisi angka-angka (Pauli). Hanya itu. Sudah. Tidak ada lagi. Kami diminta menunggu SMS berisi pengumuman untuk tes selanjutnya dan diberi Facial Foam Wardah. Selesai tes pukul 11.00, saya mendapat SMS pengumuman pukul 19.00 untuk mengikuti tes keesokan harinya. Sangat cepat dan membuat excited memang.

2. Tes Psikotest Lengkap

27 Oktober 2013, saya mengikuti psikotest lengkap pukul 09.00 di GKU Timur ITB. Tes daya ingat, daya hitung, bangun ruang, verbal, dan semacamnya hingga dzuhur. Break, makan siang disediakan oleh PTI. Huhuhu betapa baiknya, enak pula.  Setelah ishoma, selanjutnya tes gambar (Wartegg ya namanya?), tes kepribadian, dan wawancara tertulis yang berisi pengenalan terhadap diri sendiri, pencapaian hidup, dan sebagainya. Seingat saya, saya termasuk yang paling lama mengisi tes ini. Saya memang cukup niat dan bersemangat menjawab setiap pertanyaannya. Lumayan, sekalian curhat tertulis disitu. Hahaha…

3. Tes Interview Psikolog

7 November 2013, saya mengikuti interview psikolog dan mendapat pengumuman sehari sebelumnya melalui telepon yang datang tiba-tiba ketika nyawa saya belum terkumpul sempurna setelah tidur siang. (Ketahuilah, ditelepon nomor dengan awalan +6221, itu merupakan kebahagiaan terbesar bagi seorang jobseeker seperti saya). 07.30, saya meluncur ke Jalan RE Suwanda, Terusan Cimuncang bersama Bapak Ojek Pelesiran. Bermodal nekat menuju ke jalan yang tidak tercantum di Google Maps, saya hadir paling pertama, 45 menit sebelum jadwal wawancara! Terimakasih Bapak Ojek… Apalagi, saya urutan kedua, jadi harus menunggu lebih lama. Meskipun begitu, saya merasa selalu menyenangkan mengobrol dengan psikolog. Jadi, nikmati saja pembicaraannya, ikuti alurnya, dan tentunya awali dengan Bismillah dan muawadzatain… =) Jangan lupa pula tunjukkan antusiasme dan semangatmu dalam hidup.

4. Interview User/Direksi

11 November 2013, saya menuju ke Jakarta dengan mobil PTI untuk interview tahapa akhir. Alhamdulillah, waktu dhuha 10 November 2013 saya mendapatkan SMS bahwa saya berhak mengikuti tahap akhir seleksi, yaitu interview user/direksi. Bersama 5 orang lain, saya berangkat dari Bandung menuju Jakarta. Total peserta wawancara 7 orang, 5 orang dari Bandung dan 2 orang dari Jakarta. Masing-masing orang mendapat waktu wawancara 30 menit dengan pewawancara 3 pasang suami istri pemilik PTI yang terdiri dari ibu, bapak, anak, dan menantu. Mungkin karena itu, lingkungan kerja dibuat senyaman mungkin dengan unsur kekeluargaan. Pertanyaan juga diajukan dengan sangat santai, tidak disetting seperti menghadapi VVIP. Jenis pertanyaan, akan tergantung dari pengalaman kerja dan organisasi kita. Pengalaman saya, hanya diwawancara kurang dari 15 menit dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu banyak berpikir atau menjawab dengan diplomatis. Justru pertanyaan-pertanyaan iseng seringkali dilontarkan. Menurut psikolog, kunci utama dari interview di perusahaan keluarga seperti ini adalah pencarian kecocokan personal, minat, dan kepribadian, daripada profesionalitas dan teknis. Jadi, berusahalah untuk senyaman mungkin, jangan tegang, dan jangan lupa tersenyum. =)  Tetap awali dengan Bismillah dan muawadzatain ya, Allah kan penggenggam hati manusia….

Remember, remember, it’s the 13th November. Alhamdulillah, 13 November saya mendapat offering e-mail dari Ibu Ratih selaku Finance Manager, yang juga salah satu pewawancara. Saya diterima sebagai staff INL (Innovation and Lean) dan dapat mulai bergabung di PTI tanggal 18 November 2013. InsyaAllah divisi ini yang terbaik untuk saya berdasarkan hasil wawancara. Ya, menyenangkan sekali menjalani tes di PTI ini. Prosesnya cepat, tidak bertele-tele, dan nyaman. Lebih menyenangkan lagi ketika diterima. Ada mess dan tentunya begitu nyaman dalam lingkungan kerja yang sebagian besar wanita. =)

Remember, it’s the 13th November, usai sudah pencarian kerja dan status pengangguran saya. Ibu rumah tangga dan dosen masih menjadi pecapaian karir tertinggi bagi saya, jadi tentu saja saya tidak ingin berpetualang dari perusahaan ke perusahaan lain atau menjadi wanita karir yang begitu sibuk berpetualang. Saya hanya ingin mengumpulkan rezeki seadanya, yang cukup untuk diinvestasikan pada akhirat. Saya tidak suka melamar kerja, saya ingin dilamar! #nahlho

Bye-bye, Hasnur Group.. CV saya simpan saja, sebagai kenang-kenangan untukmu. Kamu bukan jodoh saya ternyata… =P

Mari berangkat, dan mencari celah rezeki di ibukota! \(-^_^-)/ Semoga saya bisa lebih tinggi dan lebih berbobot disana, literally… =D

Pindah-Pindahan

Segalanya akan dimulai dengan sangat awal pada lembaran baru:

nspertiwi19.wordpress.com

Terimakasih. =)

Racauan Kecil Tentang Dia

Huft… Sejenak mungkin memang perlu seperti ini. Meninggalkan angka-angka tugas desain perencanaan PAM, AutoCad, meninggalkan rangkaian data tentang chemical dispersant hasil KP sebulan, melupakan bahan-bahan TA, meninggalkan RKA Isra’ dan Bambu Negeri 2013, hingga kasus pemodelan air tanah, dan serangkaian bahan “panas” lain yang sudah dua minggu ini terebus bersama otakku. Anehnya, aku tidak lelah. Aku hanya muak, dan itu cukup untuk membuatku demam dan malah tak bisa mengerjakan apa-apa.

Disela banyak hal yang meminta perhatian itu, aku justru teringat hal-hal yang tak berhubungan. Hal-hal dan kenangan-kenangan penting, yang ternyata telah terpendam jauh di alam tak kasat mata. Aku beranjak kesana. Melihat dengan jelas melalui gelombang imajiner, tentang dia. Tentang dia yang telah tiada. Tentang dia yang raganya telah kembali semula.

Sebuah nama terlintas, DANI. Dia nyata. Seorang laki-laki, entah usia berapa, mungkin seumuran denganku, ketika Allah memanggilnya. Mungkin lebih muda, mungkin juga lebih tua. Yang jelas, dia memanggilku “Kak Nurul” dengan suara seraknya. Terdengar manis, jauh lebih manis jika dia yang memanggilku seperti itu dibandingkan orang lain yang memanggilku dengan panggilan serupa.

Dia pengamen, mungkin kadang juga mengemis. Entahlah, tak banyak yang kutahu tentang kegiatannya. Aku tak peduli, dia lebih tahu bagaimana cara bertahan hidup, daripada aku. Meski hidupnya juga tak bertahan lebih lama dariku. Yang ku tahu, dia punya impian besar. Banyak impian, yang tak sempat ia rengkuh.

Kematiannya menjadi duka bagi jiwa yang sempat mewarnai hidupnya, termasuk aku. Suara parau yang dia rekam di handphoneku masih terngiang, meski gadget itu sudah berpindah tangan entah kepada siapa. Ungkapan sayang dan terimakasihnya menjadi bumerang dan menusukku dengan pertanyaan untuk diri sendiri, Apakah aku  benar-benar telah berbuat sesuatu yang berarti untuknya? Entahlah, aku tak perlu mendapat jawaban.

Aku pernah membentak dan menasehatinya panjang lebar, setelah emosi melihatnya main-main ketika sholat. Memang tak beda dari anak-anak nakal di mushola, tapi melihatnya begitu, entah kenapa aku merasa kesal, atau lebih tepatnya sedih. Dia anak baik. Meski bau keringat dan lumpur pasar menyelimuti tubuhnya, tapi wangi hatinya tercium hingga ke hatiku. Dia anak manis, penuh mimpi dan kelembutan jiwa. Meski keras dan kasarnya lingkungan seringkali memancingnya untuk memberi reaksi sepadan, atau lebih.

Hingga kini, kenangan tentangnya masih hidup bersama nyanyian jalanan dan terekam dalam memori. Harmoni indah yang membuatku ingat pada tempat ketika aku menemukan kehidupan, ketika aku menemukannya di balik sekat kayu lapuk. Tempat ketika kami berbagi kisah tentang orangtua dan kehidupan. Tempat ketika kami bercengkrama tentang surga dan neraka. Tempat ketika aku mengoceh tentang dosa dan pahala di depan tiga anak kecil yang penuh kebimbangan. Tempatku menemukan kasih sayang yang tulus, cerita yang indah, dan ikatan jiwa antarmanusia penuh cahaya. =))

Dani, tak lagi berurusan dengan dunia. Tak perlu kehujanan mencari makan, tak lagi mengejar angkot mencari uang, tak butuh berebut untuk mendapat nasi. Kini, dia telah berhadapan dengan-Nya. One step closer pada keabadian… Membuktikan obrolan kami malam itu di pojok ruang tanpa cahaya. Menyaksikan dan merasakannya sendiri, secara nyata.

Setidaknya, mungkin aku bisa menyunggingkan senyum… Mengingat kau kembali kesana dengan hati dan jiwa yang telah mengenal surga dan neraka… =)

#mohon doakan Dani

Bunuh Diri Mahasiswa

Ada saatnya kita memanfaatkan sistem demokrasi Indonesia dengan berpendapat. Kebebasan ini telah diperjuangkan oleh ribuan massa yang bergerak atas nama rakyat menggulingkan rezim. Tentu tugas generasi penerusnya adalah memanfaatkan sebaik – baiknya kebebasan ini.  Saya tertarik dengan aksi yang “menimpa” Gerbang Ganesha ITB yang dilakukan oleh mahasiswa se-Bandung Raya tanggal 14 Desember 2011. Memang bukan pertama kalinya ITB, atau tepatnya mahasiswa ITB, di demonstrasi oleh pihak lain. Aksi oleh warga Gedebage dan Solidaritas Mahasiswa Papua Peduli Antirasis juga pernah terjadi. ITB di demo, bukan lagi isu baru. Jika ingin memampang kenyataan, “aksi” juga telah terjadi di dalam kampus, dalam keluarga sendiri, mahasiswa ITB kepada mahasiswa ITB. Cukup retoris jika pertanyaannya, apakah semua aksi yang pernah terjadi itu menciptkan “kekebalan” tersendiri bagi mahasiswa ITB?

Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai kronologis atau alasan terjadinya aksi terhadap mahasiswa ITB yang didasari dengan kata “apatis”. Beberapa sumber mengatakan aksi tersebut terjadi karena mahasiswa ITB menolak mengikuti aksi solidaritas untuk SH (mahasiswa UBK yang melakukan bakar diri di depan istana negara). Sebagai mahasiswa ITB, dan kebetulan tersangkut di kabinet kepengurusan tahun ini, saya dengan senang hati tidak akan membela mahasiswa ITB ataupun aksi solidaritas tersebut. Kebebasan ada di tangan setiap individu yang terlibat dalam alasan penolakan (mungkin UAS, tugas, atau memang tidak setuju) maupun pada aksi solidaritas (mungkin benar – benar peduli, hanya ikut – ikutan, atau tidak ada kerjaan lain). Saya terlalu jenuh (atau mungkin muak) dengan penilaian secara golongan, dengan alasan ini saya tidak akan mengatakan benar atau salah perbuatan dua pihak ini. Penilaian memang tidak pantas dilakukan jika informasi hanya terdengar dari media internet, tanpa bertanya langsung kepada orang – orang yang terlibat didalamnya. 

Bagi umat muslim yang membaca, bisa kalian renungkan ayat ini:“Katakanlah (Muhammad): “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing – masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra’: 84)

Pembahasan ini akan saya sampaikan di luar sudut pandang saya sebagai mahasiswa ITB. Hilangkanlah sejenak label – label mahasiswa yang mungkin “menempel” di diri saya, karena saya akan menyampaikan ini atas nama kemanusiaan dan kepercayaan saya sebagai manusia.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’ : 29)

Aksi bakar diri yang dilakukan Sondang, mungkin akan terbenam tanpa suara jika yang melakukan adalah rakyat biasa seperti buruh tani atau pedagang kecil, dan bukan mahasiswa. Tindakan bakar diri tersebut akan dianggap merupakan suatu keputusasaan, dan bukan perjuangan. Namun, karena yang melakukan hal tersebut adalah mahasiswa yang notabene merupakan aktivis, maka hal tersebut dianggap merupakan suatu bentuk perjuangan membangkitkan pergerakan rakyat. Maaf, saya menggunakan kata “dianggap”, karena saya belum menemukan alasan yang valid kebenarannya terkait peristiwa tersebut. Membaca setiap berita yang melibatkan nama Sondang, kita dapat melihat eksplorasi kata “mahasiswa” yang terjuntai menghiasi pemberitaannya.

Inspirasi dari pembalaan Sondang bisa jadi bersumber pada peristiwa berikut:

“Seorang pria membakar diri di ibu kota Mesir, Kairo, sebagai protes terhadap kondisi hidup yang buruk. Tindakan ini mirip dengan yang dilakukan seorag mahasiswa di Tunisia yang juga membakar diri dan kemudian menyulut gelombang protes di negara itu yang akhirnya menjatuhkan pemerintah.” (BBC Indonesia)

Investigasi singkat dan seadanya yang saya lakukan mendapatkan hasil bahwa harapan mahasiswa – mahasiswa yang melakukan aksi solidaritas SH adalah adanya gerakan yang dapat menjadi follow-upuntuk memperbaiki bangsa ini. Hanya saja, seharusnya memang tidak “dikemas” dalam aksi solidaritas. Kebenaran tentang “miris”nya sebuah tindakan bunuh diri, tetap harus tersampaikan, bukan malah mendukung tindakan tersebut.

Masyarakat tentunya lebih mengharapkan jika mahasiwa Ilmu Hukum tersebut dapat menjadi sarjana yang baik dan menegakkan hukum negara, daripada tindakan bakar diri tanpa alasan yang malah menimbulkan spekulasi dikalangan masyarakat. Sedikit beralih dari isu bunuh diri, demonstrasi menjatuhkan pemerintahan, masih perlu terus didiskusikan dengan baik oleh orang – orang  yang memiliki keinginan seperti itu. Tentunya dengan penawaran masa depan yang terbaik bagi setiap kalangan di Indonesia. Jika pemimpin ideal yang diharapkan belum ada dan belum mampu untuk diusung ke atas kursi pemerintahan, masihkah penjatuhan pemerintah perlu dilanjutkan?

Pada intinya, stereotip, spekulasi, atau anggapan yang kini tengah berkembang secara seragam dikalangan mahasiswa dalam rangka melakukan pembelaan bagi rakyat, memerlukan suatu kesadaran bahwa:

“Rakyat tengah resah karena mahasiwa bergerak sebagai mahasiswa, bukan sebagai rakyat.”

Apakah rakyat sadar bahwa mereka sedang dibela (jika memang niatnya adalah pembelaan)?

Perlukah rakyat sadar dan ikut bergerak?

Cukuplah pola pikir kemahasiswaan itu dipreteli dengan segala kesadaran bahwa kita adalah manusia yang wajib menolong manusia lainnya. Kita bukan subjek yang berbeda dari masyarakat. Sebagian dari kita mungkin lebih peduli, lebih pandai, lebih kritis, tapi kita tetap manusia. Mahasiswa adalah manusia yang lebih peduli, terdidik, dan wajib menyuarakan kebenaran.

Bukan saatnya membenarkan apa yang terdengar dan mempercayai apa yang terlihat. Investigasikan dan lihat lebih dalam, atau diam tanpa berkicau dengan penghinaan. Sekali lagi, jalan yang benar hanya dapat ditentukan oleh Tuhan, kita manusia hanya dapat terus belajar dan berusaha dalam kebaikan.

Suarakan kebenaran selagi idealismemu masih bisa bertahan…

“Jadilah aktivis bukan hanya sebagai mahasiswa, melainkan juga manusia”

Salam,

NSP – TL 09 – ITB

Titik Awal Sebuah Akhir

Tak semua awal memiliki akhir…

Benar kata seseorang, bahwa otakku harus muntah dulu sebelum bisa kuisi kembali. Aku harus meringankan beban otak ini.

Aku sangat menginginkan kisah yang sempurna. Tak mungkin? Baiklah, terkadang aku seperti memaksa, maafkan aku. Jika tidak begitu, aku akan pergi jauh sebelum cerita pernah dimulai… Jika tak ada awal, tak ada akhir kan? Ada kebahagiaan yang terajut disana.

Aku tak siap pergi, tapi aku harus pergi.
Sampaikan lagi kalimat manis itu, tapi aku bukan awal yang dicari, aku akhir. Jika titik akhir itu tak juga berhadapan denganku dan titik akhir lain datang menghampiri, aku sungguh tak dapat menjamin aku akan mengingat kata awal yang dulu ada.

Titik lain akan tiba lebih awal dan aku berusaha memberitakannya padamu, bahwa aku tidak bisa menolaknya jika titik akhir yang kuharapkan tak juga hadir menjadi kehidupan.

Lembaran Lain

Entah kenapa, aku tidak begitu suka mengoceh di blog. Yaah, meskipun hingga saat ini coretan – coretanku sudah lebih dari 4 lusin yang ku pampang di blog ini.

Blog tak membuatku nyaman, aku lebih suka mengoceh di lapak ini: http://nurulsetiapertiwi.tumblr.com/

Mungkin karena terasa lebih simpel. Tapi yaaa… isinya tak lebih dari luapan kegalauan atau keisengan. Aku tak pernah benar – benar serius mengungkapkan pikiran. Hanya beberapa kali saja.

Banyak orang bisa larut dalam pemikiran orang lain melalui buku, aku bukan salah satunya. Aku suka menolak pemikiran orang lain, menolak pemikiran sebuah buku. Yaah, kecuali satu buku suci yang tak akan pernah kuingkari kebenarannya. Dengan harapan itu adalah bentuk cintaku pada Sang Pemilik Kalam.

Hatiku seringkali berteriak: “Biar Kau membawaku sampai pada kehidupan dunia, aku akan merengek pada kehidupan dunia untuk membawaku kembali pada-Mu!”

Aku tidak menyerah.

Vektor Kehidupanku

Vektor —> Besaran yang memiliki ukuran dan arah

Renungan kali ini adalah tentang kehidupanku sendiri. Otakku yang keriting mulai bertanya – tanya, apakah aku terlalu sibuk memikirkan hidup di luar zona perjalananku, sehingga melupakan arah hidupku sendiri? Ataukah aku memang tidak pernah berpikir dan hanya “merasa” berpikir?

Seiring waktu yang semakin menumbuhkan usia dan membuatku bukan remaja lagi, aku sedikit terkejut dengan umur 18 yang bertengger di setiap profilku tahun ini. Apa yang sudah kulakukan dan apa yang akan kulakukan??? Aku sudah tak lagi remaja dan telah melewati masa “sweet seventeen” yang sama sekali tidak “sweet”. Yang tersisa, aku masih bersyukur bahwa aku belum melewati umur belasan. Aku masih belasan tahun!

Ok, aku tahu, usiaku muda, tapi hidupku belum tentu masih panjang. Banyak hal yang harus segera aku lakukan, sebelum semua mendekati limit bidang batas antara dunia fana dan abadi. Aku harus segera menentukan arah, mengukur arah, serta memastikan aku berjalan di jalan yang benar. Aku harus segera menentukan vektor kehidupanku!

Seseorang pernah berdiskusi denganku tentang hidup dengan vission atau passion. Keduanya memang perlu dijalankan, perlu diikuti. Jika memungkinkan, akan lebih baik apabila disatukan. Disanalah ketenangan hidup “mungkin” akan dapat ditemui.

Ketika waktu memberikan tanda koma padaku, aku pernah merenungkan suatu visi ideal. Jawabannya memang hanya satu —> Kebahagiaan hidup abadi. Menurutku, tak ada lagi yang lebih fokus, singkat, padat, dan menuntun selain itu. Aku bisa melakukan banyak hal, memilih banyak hal, berbagi banyak hal, dan patuh pada “Pemilik Kehidupan” karena visi itu.

Aku tidak munafik, aku pernah menyimpang. Bisa dibilang, aku baru saja menyimpang. Namun, memang akan selalu ada pengingat untuk kembali ke jalan menuju “kesana” ketika aku membuka kotak pikiran yang hampir berdebu. Iman akan selalu dinamis, fluktuatif. Tugas manusia menjaganya tetap stabil. Kita manusia, hanya bisa berusaha dan berdoa.

Visi seperti itu, mungkin akan memberikan banyak pilihan jalan, dan aku suka itu. Aku tidak terllau tertarik dengan sesuatu yang mengikat dan homogen. Islam memang indah, dan sepertinya banyak orang yang perlu sadar itu.

Aku suka hidupku, aku suka jalan hidupku. Begitu tepat, akurat, sesuai dengan segala hal yang kubutuhkan. Membentuk diriku menjadi aku yang aku sukai. Haha, random memang.

Visi bukan hal yang perlu aku pikirkan, yang terpenting adalah hal – hal yang menjadi misiku menuju kesana. Itulah yang penting. Jalan menuju kesana, pembelajaran, perjuangan, pengabdian.

“Sustainable Design” dan “Urban Planning” menjadi salah satu topik dari misi yang aku gambarkan pada imajinasiku. Untuk melakukan perbaikan dibumi, berbagi kesempatan dan kebahagiaan. Akan kukejar segala ilmu itu meski harus kembali berkelana ke negeri orang. Demi membangun peradaban yang lebih baik. Peradaban yang tak mengahancurkan mental kaum terpinggirkan.

Aku ingat bagaimana aku merajut mimpi di balik dinding kayu tua yang tak rapat itu. Aku ingat bagaimana harapanku terbangun oleh kesempatan dan semangat yang diberikan orang tuaku. Aku ingat bagaimana aku mempunyai keberanian untuk melangkah lebih jauh hingga terbang dari Sepinggan menuju Soekarno-Hatta. Aku ingat dan aku yakin, setiap anak mempunyai mimpi itu. Setiap manusia memiliki harapan dan impiannya masing – masing.

Sebagian dari manusia ada yang terlahir tangguh dan berani mendobrak kondisi. Sebagian yang lain hanya menjalani hidup dan menunggu kesempatan. Sebagian lagi, terlahir tanpa memikirkan kehidupan dan menikmati segala hal yang telah tersedia. Kita, yang merasa “cukup” dan mulai sadar mengenai tugas manusia, akan mulai memikirkan mereka. Merasakan adanya benang merah yang dirajut dalam rencana Allah untuk menghubungkan cerita umat manusia.

Sebagaimana hidupku dulu yang tak pernah berharap banyak tentang terwujudnya mimpi. Ketika impian itu masih tergantung mengejek, aku tak sempat berpikir tentang sociopreneur, tak sempat berpikir tentang penghancuran kapitalisme, tak sempat berpikir tentang vektor kehidupan. Rajutan benang merah penghubung cerita tersebut yang akhirnya mengantarkan aku pada segala optimisme dan motivasi. Lebih lanjut, bersamaan dengan bacaan – bacaan yang mulai berubah, aku mulai berpikir skeptis dan kritis terhadap dunia. Menyadari bahwa banyak hal melenakan yang tampak menjadi suatu kebaikan. Tanpa disadari oleh sang pelaku bahwa “hal baik” itulah yang menyebabkan segalanya menjadi tidak baik.

Kesempatan adalah hal yang ingin aku bagi dengan mereka yang belum mendapatkannya. Sebagaimana aku dulu, sebagaimana pengalaman mengajariku.

Kemudian tentang passion, terlalu banyak yang kusukai. Fotografi, kepenulisan, hingga crafting. Aku suka melakukan semua itu. Dengan begitu aku bisa menyampaikan segala hal dengan caraku. Dengan cara yang tak terbaca oleh pandangan biasa. Ipersonic, personality test mengatakan bahwa berpikir abstrak adalah kemampuan alami bagiku. Benar sekali. =D

Aku suka caraku dan cara Allah menuntunku. Ini menyenangkan.

Visi dan passion akan sejalan, harus!